1. Pengertian Historiografi Tradisional
Historiografi Tradisional adalah penulisan sejarah yang ditulis pada masa kerajaan-kerajaan tradisional di Nusantara (bercorak Hindu-Buddha maupun Islam) oleh para pujangga atau juru tulis istana.
Tujuan Utama Penulisan:
- Legitimasi (pembenaran) atas kekuasaan raja agar kedudukannya diakui oleh rakyat.
- Memperkuat kewibawaan dan kesaktian sang raja.
- Sebagai sarana hiburan atau pengingat ingatan bagi lingkungan istana.
2. Ciri-Ciri Utama Historiografi Tradisional
Historiografi tradisional memiliki karakteristik unik yang membedakannya dengan penulisan sejarah modern:
- Istanasentris: Berpusat pada kehidupan istana, raja, dan keluarga kerajaan. Rakyat biasa jarang dibahas.
- Etnosentris: Menekankan kebudayaan atau suku bangsa tertentu (misalnya tradisi Jawa, Sunda, Melayu).
- Regiocentris: Kental dengan nuansa kedaerahan atau lingkup wilayah kerajaan tertentu.
- Religio-Magis / Sakral: Unsur gaib, silsilah keturunan dewa, mitos, dan legenda sangat dominan dibanding fakta ilmiah.
- Feodalistis-Aristokratis: Menekankan posisi raja sebagai penguasa mutlak.
- Anonim: Banyak karya tradisional yang tidak mencantumkan nama pengarangnya secara jelas.
3. Corak dan Pengelompokan
Historiografi tradisional di Indonesia dibagi menjadi dua corak utama berdasarkan periodisasinya:
- Corak Hindu-Buddha: Penulisan menggunakan bahasa Sansekerta, Jawa Kuno, atau Bali Kuno. Sering ditulis pada prasasti, daun lontar, atau serat. Raja kerap digambarkan sebagai titisan (inkarnasi) Dewa.
- Corak Islam: Dimulai seiring masuknya pengaruh Islam di Nusantara. Menggunakan istilah seperti Babad, Hikayat, Tuhfat, atau Suluk. Unsur silsilah raja dihubungkan dengan para nabi atau wali songo.
4. Contoh Karya Historiografi Tradisional
Berikut beberapa contoh karya sastra dan sejarah tradisional yang terkenal dari berbagai wilayah di Nusantara:
- Babad Tanah Jawi: Mengisahkan silsilah raja-raja Jawa dari Nabi Adam, dewa-dewa, hingga raja-raja Mataram Islam.
- Kitab Pararaton & Negarakertagama: Mengisahkan riwayat Ken Arok serta kejayaan Kerajaan Majapahit di bawah Hayam Wuruk.
- Hikayat Raja-Raja Pasai & Sejarah Melayu (Sulalatus Salatin): Mengisahkan sejarah dan silsilah kerajaan-kerajaan Melayu-Islam.
- Babad Pasundan / Babad Pajajaran: Mengisahkan sejarah lokal di tanah Sunda.
5. Kelebihan & Kekurangan
Memahami historiografi tradisional memberikan kita sudut pandang lokal mengenai cara masyarakat masa lalu mendokumentasikan peristiwa:
- Kelebihan: Kaya akan peninggalan kebudayaan, karya sastra bernilai tinggi, serta membantu melacak silsilah dan sosiokultural masyarakat lokal pada masanya.
- Kekurangan: Kurang objektif (banyak dipengaruhi kehendak raja), sulit membedakan antara fakta sejarah dengan mitos/legenda, serta tidak mengutamakan urutan kronologis yang akurat.